Tidur ketika Ramadhan
Mungkin sebagian orang akan mengatakan hal yg buruk ketika ada seseorang yg masih terlelap di kasur nya pada saat jam-jam produktif. Mereka mengira hanya orang yg tidak ada aktifitas lah yg memilih untuk bermalas-malasan di kasur. Namun, apa jadi nya kalau di bulan ramadhan? Terlebih ketika menemukan argument yg menyatakan bahwa tidur dibulan ramadhan merupakan ibadah.
Beberapa orang yg meng-klaim diri nya malas pun sekarang memiliki alasan yg lebih kuat untuk terus melakukan rutinitasnya tersebut. Bermodalkan sahur dini hari, seolah-olah dia punya beban yg harus ditanggung sampai menjelang maghrib tiba. Dengan alasan perut keroncongan itulah dia memanfaatkan momentum tersebut untuk bermalasan padahal diluar bulan ramadhan pun dia juga suka malas-malasan namun perbedaan yg mendasar ialah di bulan selain ramadhan tidak ada yg bisa dikambing hitamkan.
Apakah masalah besar ketika kita tidur dibulan ramadhan? Gak juga, selagi masih wajar ritme antara tidur dan bangunnya. Ada yg bangunnya pas mau sholat doang, pas kelar sholat lanjut tidur lagi dong. Ini lebih sedikit bermoral sih daripada yg karena tidur lalu shalat nya ketinggalan. Dan mau gantinya pun susah, karena shalat yg ketinggalan itu bisa-bisa sampai 2 waktu.
Ada yg beranggapan bahwa tidur berlebihan selagi tidak merugikan dan mengganggu orang lain itu gak masalah. Oke, ada benar nya juga. Tapi tunggu, yakin tidak ada yg di rugikan selain diri mu sendiri? Coba pikir orang tuamu, keluarga, agama bahkan negara bisa menanggung akibatnya. Yg seharus nya bisa produktif menghasilkan sesuatu, tapi ini malah stuck dan minim karya.
Intinya boleh saja tidur dibulan ramadhan, tapi tetap tau waktu dan jangan sampai lalai dibuatnya. Tidur dikatakan ibadah disini menurut ku itu merupakan hal yg terbaik ketika memang tidak ada lagi yg bisa dilakukan. Dan ditakutkan kita bisa bisa mengurangi atau pun membatalkan puasa itu sendiri. Jadi, tidur merupakan opsi terakhir untuk tetap menjaga puasa kita. Namun, ketika kita bisa menjaganya lantas apakah tidak mau mengisi nya dengan ibadah-ibadah lainnya yg tentunya memiliki nilai bobot pahala yg berbeda. Coba pikirkan, apakah tidak rugi membiarkan bulan ramadhan yg notabene nya pahala dilipatgandakan cuma dihabiskan untuk hal-hal yg kurang bermanfaat.

Komentar
Posting Komentar